Mengenal Kampung Muaif

SENTANI, jpr – Muaif merupakan salah satu kampung dari tujuh kampung yang masuk dalam wilayah pemerintahan Distrik Demta Kabupaten Jayapura. Luas kampung yang terletak di sebelah barat Kali Kecil Muaif ini hanya 1.200 meter, dengan jumlah penduduk per-Selasa 22 November 2017 sebanyak 156 jiwa.

Dari total penduduk Kampung Muaif sebanyak itu, hanya 50 orang yang pernah mengenyam pendidikan. Yaitu 32 orang lulus sekolah dasar, sembilan orang lulus SMP, dan lulusan SMA juga sembilan orang. Selebihnya belum pernah sekolah.

Jarak dari pusat Pemerintahan Kabupaten Jayapura di Sentani ke Muaif sejauh 134 kilometer dengan lama tempu sekira lima setengah jam. Sementara jarak dari pusat kota pemerintahan Distrik Demta ke Kampung Muaif sejauh 18 kilometer, dengan melintasi jalan setapak selama kurang dari satu jam menggunakan kendaraan roda dua dan empat.

Tapi masyarakat lebih banyak berjalan kaki selama sekira dua sampai tiga jam. Namun jika air laut sedang meti jauh, masyarakat lebih memilih berjalan kaki maupun menggunakan kendaraan lewat pantai yang sangat luas yang menghubungkan Kampung Tarfia/Kamdera Distrik Demta sampai ke Bonggo Timur, Kabupaten Sarmi. Ada pilihan bagi masyarakat untuk bisa dari dan ke Kampung Muaif.

Perjalanan menuju Muaif selain bisa menggunakan speedboat atau perahu jonson melintasi laut, dan bisa juga menggunakan kendaraan roda dua dan roda empat melewati pusat kota Demta, Kampung Ambora dan sampai di pinggir Kali Kecil Muaif, kemudian menyeberang kali itu menggunakan sampan.

“Kendaraan roda dua dan empat tidak bisa langsung masuk ke dalam kampung karena Muaif terletak di sebelah barat Kali Kecil Muaif. Secara administrasi pemerintahan, Kampung Muaif terbagi dalam dua rukun warga (RW), yaitu RW 01 dan RW 02.

Jumlah penduduk RW 01 sebanyak 88 jiwa, dengan 18 kepala keluarga. Sementara penduduk RW 02 sebanyak 68 jiwa, yang hidup di dalam 15 kepala keluarga. Total ada 156 jiwa dan 33 kepala keluarga yang hidup di Kampung Muaif Distrik Demta Kabupaten Jayapura.

“Saat dikunjungi pada 22 November lalu, kampung dalam keadaan sepi. “Masyarakat ada pergi mencari”, ujar Marthin Swabra, alumni SGO Jayapura, yang menjadi guru relawan di SD Negeri Muaif sejak 1988 hingga kini – yang belum pernah diangkat jadi guru pegawai negara.

Penataan rumah penduduk cukup rapi. Pembangunan rumah penduduk ada yang semi permanen dan hanya beberapa yang dibangun secara permanen.

Kantor pemerintahan kampung Muaif berlantai dua, dibangun secara gotong-royong oleh masyarakat kampung sendiri dengan menghabiskan dana sebanyak 120 juta rupiah. Pengerjaannya selama tiga tahun anggaran, sejak 2007 – 2009, dan diresmikan oleh Bupati Jayapura Mathius Awoitauw pada 1 September 2015 lalu.

“Harga kantor kampung satu lantai sebanyak Rp 10 juta, “karena dua lantai, jadi harganya Rp 20 juta”, ujar Kepala Kampung Muaif, Yulius Kekri.

Dana pembangunan kantor kepala Kampung Muaif berasal dari alokasi dana kampung (ADK) tiga tahun anggaran: 2007, 2008 dan 2009. Dibangun pada jaman Bupati Habel Suwae, tapi diresmikan oleh bupati berikutnya, Mathius Awoitauw.

“Dulu kita kasih undangan ke Bupati Jayapura, Habel Melkias Suwae, tapi dia tidak pernah datang ke kampung sini untuk resmikan kantor ini sampai masa jabatannya habis. Akhirnya diresmikan oleh bupati berikutnya, Mathius Awoitauw”, ujar Kepala Kampung Muaif, Yulius Kekri di kantornya, 22 November lalu. Kantor kampung yang berlantai dua itu tidak hanya menjadi tempat kerja kepala kampung bersama aparatnya, tetapi ada ruangan yang diperuntukan bagi PKK dan Posyandu.

Tinggalkan Balasan