Menghilangkan Sagu Sama Dengan Menghilangkan Budaya Papua

SENTANI, jpr – Asisten III setda Kabupaten Jayapura Timotius Demetouw akhirnya meresmikan rumah sagu Hiroshi yang berlokasi di Kampung Kemiri Sentani. Kegiatan ini merupakan upaya pelestarian pohon sagu Papua di tengah maraknya dominasi makanan non sagu ditengah masyarakat Papua.

Timothius Demetouw mengatakan, menghilangkan sagu dari Bumi Cendrawasih itu artinya sama dengan menghilangkan budaya orang asli Papua. Karena pada dasarnya makanan orang Papua bukan nasi atau beras tetapi melainkan sagu.

Orang Papua dalam pertemuan-pertemuan atau acara-acara apapun kalau dia hadir di situ dan dia disajikan makan nasi sepertinya ada sesuatu yang masih kurang, tapi kalau ada sagu maka dia katakan pesta ini lengkap.

“Karena sagu itu yang memberikan dia kekuatan baru dalam bekerja dalam berpikir dan sebagainya,” kata Timothius Demetouw dalam sambutannya saat peresmian rumah sagu di Jalan Kemiri Sentani, Rabu (15/1).

Dia berharap Ke depan rumah sagu milik komunitas Hiroshi itu harus menjadi tempat untuk pembelajaran sagu di Papua khususnya di kalangan generasi penerus. Dan itu tentunya harus dimulai dari lingkungan pendidikan mulai dari TK Paud SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi.

“Diharapkan tempat ini kedepan akan menjadi tempat pertemuan untuk semua siswa untuk belajar. Semua sagu yang ada di Kabupaten Jayapura ini perlu dibuat dalam ilmu pengetahuan lokal atau mulok. Supaya anak-anak datang ke sini dia belajar teorinya dan turun ke lapangan untuk praktek dan langsung lihat wujud sagunya itu seperti apa,” harapnya.

Perlu diketahui, peresmian rumah sagu Hiroshi ini diikuti juga oleh sejumlah utusan lembaga pendidikan yang ada di Kabupaten Jayapura. Bagaimana lembaga pendidikan itu juga sudah terlibat langsung dalam kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan pelestarian sagu. Organisasi pencinta alam Hiroshi juga sudah mulai sosialisasikan program sagu masuk sekolah.

Tinggalkan Balasan