SENTANI, jayapurakab.go.id – Cabang lomba Syarhil Quran pad MTQ Provinsi Papua Ke-XXXI, berlangsung meriah, bertempat di Aula Insan Cendikia Doyo Baru, Kamis (16/7/2026). Pada cabang ini tercatat 12 grup atau 36 peserta mengikuti perlombaan, Mereka berasal dari enam kabupaten/kota di Provinsi Papua, yakni Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, Biak Numfor, Keerom, Sarmi, dan Mamberamo Raya.
Ketua Dewan Hakim Cabang Musabaqah Syarhil Al-Qur’an, Hj. ST. Marhamah Shabry, S.Ag., M.Ag., mengatakan pada Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Papua Tahun 2026 kualitas pesertanya mengalami peningkatan yang signifikan dibandingkan pelaksanaan MTQ pada tahun-tahun sebelumnya, di berbagai daerah secara umum seluruh peserta mampu menampilkan kemampuan yang lebih merata pada setiap unsur penilaian, baik pensyarah, pembaca ayat (tilawah), maupun penerjemah.

”Alhamdulillah, dari seluruh peserta yang mengikuti cabang Musabaqah Syarhil Al-Qur’an tahun 2026 ini, hampir semuanya memiliki kualitas yang relatif merata. Peningkatannya juga sangat signifikan. Ini menunjukkan bahwa pembinaan yang dilakukan oleh LPTQ di kabupaten dan kota se-Provinsi Papua semakin baik,”ujarnya.
Menurutnya, cabang Musabaqah Syarhil Al-Qur’an merupakan perlombaan yang mengandalkan kekompakan tim sehingga setiap anggota harus memiliki kemampuan yang seimbang. Pada pelaksanaan MTQ sebelumnya masih ditemukan perbedaan kemampuan dalam satu tim, namun kondisi tersebut mulai berkurang pada tahun ini.
”Kalau pada tahun-tahun sebelumnya biasanya masih ada satu anggota tim yang menonjol atau justru tertinggal, baik pada bagian pensyarah, pembaca ayat maupun penerjemah. Tahun ini kami melihat kemampuan mereka jauh lebih merata sehingga penampilannya menjadi lebih baik,”katanya.

Meski memberikan apresiasi terhadap peningkatan kualitas peserta, Ketua Dewan Hakim mengakui bahwa Papua masih menghadapi tantangan untuk bersaing di tingkat nasional. Menurutnya, sejumlah provinsi lain telah menerapkan pola pembinaan yang berlangsung secara berkelanjutan melalui sekolah, pondok pesantren, masjid, hingga kegiatan ekstrakurikuler.
Sementara itu, di Papua pembinaan peserta masih cenderung dilakukan menjelang pelaksanaan MTQ sehingga perlu ditingkatkan agar menghasilkan prestasi yang lebih kompetitif.
”Kita harus mengakui bahwa daerah lain masih berada di atas kita karena pembinaannya dilakukan secara berkelanjutan. Sementara di Papua, pembinaan biasanya baru lebih intensif ketika mendekati pelaksanaan musabaqah. Itu menjadi salah satu kelemahan yang harus kita benahi,” ungkapnya.

Ia berharap pembinaan Musabaqah Syarhil Al-Qur’an dapat dilakukan secara lebih intensif dan berkesinambungan oleh LPTQ, para guru, pondok pesantren, serta remaja masjid di seluruh Papua. Dengan demikian, kualitas peserta diharapkan terus meningkat dan mampu bersaing pada ajang MTQ tingkat nasional.
Penulis : Fuad
Foto : Lucky & Aditya
Admin : Rilva

