SENTANI, jayapurakab.go.id – Upaya mempercepat eliminasi malaria di Kabupaten Jayapura terus diperkuat melalui pelatihan dan pelantikan 30 calon kader Juru Malaria Desa (JMD). Para kader disiapkan untuk membantu menemukan kasus malaria lebih dini, mendorong masyarakat melakukan pemeriksaan kesehatan, serta memastikan pasien menjalani pengobatan hingga tuntas.
Kegiatan yang didanai Program Malaria Perdhaki dan dilaksanakan melalui kolaborasi dengan SSR Yapukepa II serta Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura ini berlangsung di Hotel Grand Cartenz Sentani, Senin (12/10/2026).
Pelatihan tersebut melibatkan calon kader dari sekitar 15 kampung di Kabupaten Jayapura. Kegiatan teknis pelatihan berlangsung selama lima hari, mulai 12 hingga 16 Oktober 2026, setelah peserta melakukan registrasi pada 11 Oktober 2026.
Ketua Panitia Yapukepa II, Tomi S. SSR Aliljaman, menjelaskan bahwa pembiayaan kegiatan sepenuhnya didukung oleh Perdhaki melalui Program Malaria untuk membantu pemerintah daerah memperkuat pengendalian malaria di Kabupaten Jayapura.
Menurutnya, perekrutan peserta dilakukan melalui kerja sama dengan pemerintah kampung, puskesmas, dan Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura agar kader yang dilatih dapat menjangkau masyarakat di wilayah masing-masing.
Ia berharap masyarakat dapat menerima kehadiran kader JMD dan mendukung tugas mereka dalam penemuan kasus, pemeriksaan, serta edukasi pencegahan malaria.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura, dr. Anton Tony Mote, M.KM., mengatakan penguatan kader merupakan salah satu strategi pemerintah daerah untuk mempercepat eliminasi malaria sekaligus meningkatkan pelayanan kesehatan berbasis masyarakat.
Menurutnya, keberadaan kader di tingkat kampung sangat penting karena mereka menjadi penghubung antara masyarakat dan fasilitas pelayanan kesehatan, terutama dalam memberikan edukasi, mendorong pemeriksaan, serta membantu pemantauan kasus penyakit.
“Kader-kader ini akan berada di kampung. Jumlahnya disesuaikan dengan luas wilayah dan jumlah penduduk agar tugas yang diberikan dapat terlaksana dengan baik,” jelasnya.
Anton menerangkan, Kabupaten Jayapura memiliki 19 distrik dan 139 kampung. Kader malaria sebenarnya telah tersedia di berbagai kampung, tetapi penguatan terus dilakukan berdasarkan evaluasi wilayah yang masih membutuhkan peningkatan kapasitas dan pemantauan lebih intensif.
Dalam pelaksanaannya, kader wajib bekerja sesuai modul pelatihan dan melaporkan hasil kegiatan kepada puskesmas. Laporan tersebut selanjutnya diteruskan secara berjenjang kepada Dinas Kesehatan, pemerintah provinsi, hingga pemerintah pusat.
Ia juga mengungkapkan bahwa penguatan kader tidak hanya berfokus pada malaria. Pemerintah daerah mendorong integrasi edukasi dan pelayanan masyarakat untuk empat penyakit, yakni HIV, tuberkulosis (TB), malaria, dan kusta.
Anton mengimbau masyarakat, kepala distrik, dan kepala kampung agar mendukung keberadaan kader yang telah mendapatkan pembekalan. Dukungan tersebut diperlukan agar kegiatan edukasi, pemeriksaan, dan pemantauan kesehatan dapat berjalan tanpa hambatan di lapangan.
Menurut Anton, kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, kader, masyarakat, dan gereja menjadi faktor penting dalam menyukseskan program pengendalian penyakit.
Sementara itu, Kepala SR PWK Jayapura II, Thomas Dharmadi, berharap para peserta tidak hanya mengikuti pelatihan untuk memperoleh pengetahuan, tetapi juga menerapkannya secara nyata setelah kembali ke kampung masing-masing.
Ia menekankan bahwa kader harus memiliki semangat membantu masyarakat, mengenali gejala penyakit, mendorong pemeriksaan, dan menyampaikan informasi yang benar mengenai pencegahan malaria.
“Setelah pelatihan ini, ilmunya jangan berhenti di sini. Ilmu yang diperoleh harus digunakan dan dijalankan di masyarakat untuk membantu mengurangi penyakit malaria,” pesannya.
Thomas juga berharap para kader aktif melakukan promosi kesehatan agar masyarakat semakin memahami bahaya malaria, mengetahui cara pencegahannya, dan tidak ragu memeriksakan diri ketika mengalami gejala yang mengarah pada penyakit tersebut.
Melalui pelatihan ini, para kader JMD diharapkan menjadi garda terdepan dalam mendukung pelayanan kesehatan di kampung, mempercepat penemuan kasus, dan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjalani pemeriksaan serta pengobatan secara tepat.
Keberhasilan eliminasi malaria tidak hanya bergantung pada tenaga kesehatan, tetapi juga pada keterlibatan aktif masyarakat dalam pencegahan, deteksi dini, dan kepatuhan terhadap pengobatan hingga tuntas.
Penulis : Imel
Foto : Flora
Admin : Rilva

