Tim Gabungan Pantau Potensi Longsor Sungai Kemiri, Antisipasi Resiko Banjir Bandang

Berita Daerah Penanggulangan Bencana

Persiapan Tim Gabungan Mitigasi Bencana melakukan pemantauan potensi longsor di kawasan Sungai Kemiri, Cagar Alam Pegunungan Cycloop, Kabupaten Jayapura. Senin (27/7/2026)

SENTANI, jayapurakab.go.id – Tim Gabungan Mitigasi Bencana melakukan pemantauan potensi longsor di kawasan Sungai Kemiri, Cagar Alam Pegunungan Cycloop, Kabupaten Jayapura, Senin (27/7/2026). Kegiatan ini bertujuan mengantisipasi kemungkinan terbentuknya bendungan alami akibat longsor yang dapat memicu banjir bandang dan membahayakan masyarakat di wilayah hilir.

Tim gabungan terdiri dari BPBD Kabupaten Jayapura, BBKSDA Papua, WWF Indonesia, BPDAS Mamberamo, Basarnas (SAR), RAPI, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jayapura, serta Pramuka Saka Wanabakti.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Jayapura, Lefinus Ragainaga, S.H., mengatakan pemantauan ini merupakan tindak lanjut dari briefing teknis yang digelar pada 23 Juli 2026. Dalam pertemuan tersebut disepakati perlunya pengecekan langsung di lapangan untuk memastikan kondisi terkini titik longsor sekaligus mengidentifikasi potensi ancaman yang dapat menimbulkan bencana.

“Kegiatan ini juga bertujuan mengumpulkan data sebagai dasar penyusunan langkah-langkah mitigasi bencana di kawasan Pegunungan Cycloop,” ujarnya.

Pemantauan berlangsung selama tiga hari, mulai 27 hingga 29 Juli 2026. Tim akan meneliti kondisi longsor pascabanjir bandang Sentani tahun 2019 dengan mengumpulkan data hidrologi, kondisi aliran sungai, sedimentasi, karakteristik material longsoran, hingga kondisi tutupan hutan di sekitar lokasi. Selain itu, pemetaan udara menggunakan drone juga dilakukan untuk memperoleh gambaran kondisi kawasan secara lebih akurat.

Lefinus menjelaskan, berdasarkan hasil pemantauan sebelumnya, terdapat lima titik longsor di kawasan hulu Sungai Kemiri yang teridentifikasi setelah banjir bandang tahun 2019. Sebagian besar lokasi tersebut telah pulih secara alami, namun masih ada satu titik longsor pada ketinggian sekitar 600 meter di atas permukaan laut yang hingga kini masih terbuka.

Karena itu, tim akan memverifikasi kondisi terbaru di lokasi tersebut, termasuk menilai kestabilan lereng, kondisi material longsoran, serta kemungkinan material masuk ke badan sungai. Tim juga memastikan tidak ada penyumbatan aliran sungai yang berpotensi membentuk bendungan alami.

Sementara itu, Ketua Tim Mitigasi, Laude Rianto, menjelaskan setiap instansi memiliki tugas sesuai kewenangannya. BBKSDA Papua bertanggung jawab mengoordinasikan pengumpulan data di kawasan konservasi, WWF Indonesia mendukung pemetaan udara menggunakan drone dan dokumentasi lapangan, Tim SAR menangani aspek keselamatan dan evakuasi jika diperlukan, sedangkan RAPI memastikan komunikasi selama kegiatan berlangsung tetap berjalan dengan baik.

Selain melakukan pengumpulan data teknis, tim juga akan memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai potensi bahaya longsor dan perubahan kondisi aliran sungai. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjaga kelestarian hutan di Pegunungan Cycloop sebagai bagian dari pengurangan risiko bencana.

Hasil pemantauan nantinya akan memuat kondisi terbaru longsor Sungai Kemiri, data hidrologi dan sedimentasi, hasil pemetaan drone, identifikasi potensi bendungan alami, serta rekomendasi teknis bagi pemerintah dan instansi terkait dalam menentukan langkah penanganan selanjutnya.

Seluruh hasil kegiatan akan disusun dalam laporan resmi dan disampaikan kepada BPBD Kabupaten Jayapura serta pihak terkait sebagai dasar pengambilan keputusan dalam upaya mitigasi bencana.

Sebagai informasi, banjir bandang Sentani pada tahun 2019 merupakan salah satu bencana terbesar di Papua yang menyebabkan banyak korban jiwa, merusak permukiman, fasilitas umum, dan infrastruktur. Peristiwa tersebut menjadi pelajaran penting bahwa pemantauan kawasan hulu Pegunungan Cycloop harus terus dilakukan untuk mencegah terulangnya bencana serupa di masa mendatang.

Penulis & Foto : Imel

Admin             : Rilva